Malam…..

January 20th, 2008 by diatasnamacinta

Malam…,
Keindahan, kesepian, kedinginan, kesyaduanmu meyimpan segala rahasia yang telah berlaku di zaman silam.
Gelapmu kadang-kala jadi penyejuk ibadah abid yang merindukan Tuhan.
Tapi adakalanya kesempatan bagi pendosa yang menyangka malam dapat melindungi ia dari penglihatan Tuhan-Nya.

Kesunyian ditunggu oleh sepasang kekasih memadu kasih.
Cumbu rayu menjadi bisikan yang gemersik menyuburkan kasih.
Dan malam datang menjanjikan saat itu.
Saat si abid berdiri, duduk dan baring menyebut nama Allah yang satu.

Habibah Al-Adawiyah merintih di waktu malam:
"Tuhanku, bintang-bintang telah menghilang di balik awan.
Mata insan telah tidur lelap. Pintu-pintu istana para maharaja telah terkunci.
Lalu setiap kekasih telah berdua-duaan dengan kekasihnya.
Dan inilah aku tampil mengadap-Mu…"

Dan malam juga adalah detik hamba yang berdosa rujuk pada keampunanNya.
Lalu dalam derai air matanya yang gugur di dada malam, meluncurlah kata-kata penyesalan atas keterlanjuran dan kesalahan.
Seolah-olah terdengarlah di telinganya makna sebuah firman,
"Demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tidak pula membenci kamu."
(Ad-Dhuha.)

Malam…,
Kalau ia dipenuhi ribut petir yang dasyat, kenangilah azab Tuhanmu.
Kalau ia dihiasi bulan dan bintang, haraplah rahmat-Nya.
Keindahannya biar menerangi hatimu, kegelapannya usah menghitamkan amalmu.

Uwais Al-Qarni meyambut kedatangan malam dengan katanya,
"Ini malam rukuk," lalu beliau pun sembahyang dengan rukuknya panjang-panjang hingga menjelang fajar.
Di malam yang lain ia berkata, "Inilah malam sujud."
Lalu sujudlah beliau sepanjang malam sampai fajar tiba sebagai pamitan malam beransur hilang.
Itulah malam pada Uwais Al-Qarni.

Awas!
kedatangan malam mungkin seiring dengan saat kematian.
Tidurmu mungkin untuk selama-lamanya.
Kegelapan malam mungkin bersambung ke alam kubur.
Dan malam itu terakhir buatmu selama di dunia.
Mungkin kerana menyedari hakikat inilah Rasulullah (saw) pernah mengajar kita berdoa ketika mahu masuk tidur,
"Ya Allah, dengan nama-Mu Yang mematikan dan Yang menghidupkan."

Esok ketika bangun dari tidur kita dianjurkan berdoa,
"Syukur kepada Allah yang menghidupkan kita setelah kita dimatikan. Dan kepada-Nyalah kita akan dikembalikan"
Tidur adalah lambang kematian.
Dan malam, ketika memejamkan mata di waktu malam, kenangilah walau sedetik saat kematian.

Mudah-mudahan kau dapat merasai sebekas rasa seperti yang dialami oleh seorang wali Amir bin Abdullah:
"Tidak ada aku lihat sesuatu yang dinamakan syurga, di mana pencarinya asyik tidur.
Dan tidak pernah pula aku lihat sesuatu yang dinamakan neraka, di mana orang yang hendak menghindarinya asyik tidur saja."

Malam adalah pesta ibadah bagi kekasih-kekasih Allah.
Di sana mereka perolehi ketenangan.
Ketenangan yang abadi…, kebahagiaan yang hakiki.

Malam…,
Selagi dunia masih berdenyut dengan gerak dan suara kehidupan, selagi itulah kau pasti menjelang.
Kau adalah tanda-tanda kebesaran-Nya.
Keindahanmu jadi sumber ilham penyair dan pujangga.
Kejadianmu menjadi kajian para ilmuan dan sarjana.
Tetapi siapakah yang akan memuji Dia yang menciptamu?

Malam…,
Janganlah kau lindungi insan daripada melihat Penciptamu.
Jangan dikaburi kehebatan Penciptamu dengan kegelapanmu.
Berapa ramaikah insan yang melihat keindahanmu terdetik rasa di dalam jiwa, hingga hatinya berkata :

"Malam…. engkau indah, tapi Penciptamu jauh lebih indah!"

*di malam-malam yang penuh amanah, kusempatkan menulis….

Hati-hati Nongkrong Di Jalan

January 20th, 2008 by diatasnamacinta

Berhati-hatilah duduk-duduk di pinggir jalan. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, bagi kami
sesuatu yang tidak dapat kami tinggalkan. Dalam berkumpul itu kami berbincang-bincang." Nabi
SAW menjawab, "Kalau memang suatu keharusan, maka berilah jalan itu haknya." Mereka bertanya
lagi, "Apa yang dimaksud haknya itu, ya Rasulullah?" Nabi SAW menjawab, "Palingkan pandanganmu
dan jangan menimbulkan gangguan. Jawablah tiap ucapan salam dan ber-amar ma’ruf nahi munkar."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Duduk-duduk di pinggir jalan memang mengasyikkan. Disamping pasang aksi dan jual tampang, juga
mengobrol ke sana ke mari, bercanda ria, dan menikmati pemandangan di depannya. Menggoda orang
yang lewat, terutama perempuan tidak terlepas dari aktivitas itu. Bahkan sampai berani
mengganggu dan merayu.

Kegiatan seperti ini telah menjadi kesenangan dan membudaya di kalangan muda-mudi dari zaman ke
zaman. Malahan bukan hanya pemuda-pemudi saja yang menyenangi duduk-duduk di pinggir jalan ini,
tapi pada tingkat orang dewasa dan orang tua juga menyukainya.

Di zaman Rasulullah SAW hal ini pun merupakan kesenangan para sahabat, sehingga beliau mewanti-
wanti dan memberi batasan tentang adab-adab yang harus dipenuhi oleh orang-orang yang senang
duduk-duduk di pinggir jalan. Di antara ketentuan-ketentuan itu seperti dalam hadits di atas :

Pertama, palingkan pandangan. Pandangan mata, sesuatu hal yang membahayakan karena akan
mempengaruhi hati dan menggerakkan nafsu birahi yang bergejolak. Walaupun cepatnya pandangan
secepat larinya anak panah dari busurnya, ia akan menyangkut dalam hati. Dan hati bisa menyeret
pada keinginan untuk melampiaskan hasratnya itu.

Karena berbahaya pandangan mata itu, Allah memerintahkan untuk menundukkan pandangan itu.
Perintah ini tertera dalam surah An-Nuur 30-31 :

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan
memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka
menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka…,"

Ibnu Qayyim berkata, "Pandangan mata adalah penyebab dan penggerak utama adanya nafsu birahi,
maka menjaga pandangan mata merupakan penjagaan atas kemaluan. Barangsiapa membiarkan pandangan
matanya berkeliaran untuk melihat sela-sela kemaksiatan, sesungguhnya Allah telah menciptakan
sebagai cermin dari hati. Jika hamba ini menggerakkan matanya guna memandang barang haram,
niscaya hatinya akan menggerakkan dan mempengaruhi nafsu birahi dan hasratnya. Dan jika seseorang
memelihara pandangan matanyanya, niscaya hati tidak akan menggerakkan nafsu birahi.

Kedua, jangan mengganggu. Nongkrong-nongkrong di pinggir jalan terasa kurang asyik bila
tidak menggoda dan mengganggu orang. Gatal lidah rasanya bila tidak melontarkan kata-kata pada
orang yang lewat di depan matanya. Keinginan itu pastilah muncul bagi orang yang senang duduk-
duduk di pinggir jalan, bahkan ada juga yang tujuannya memang demikian. Untuk Rasulullah SAW
memberikan persyaratan untuk tidak mengganggu orang, bila pekerjaan nongkrong di pinggir jalan
ini tidak bisa ditinggalkan. "Kaffuladzai", jangan menimbulkan gangguan.

Ketiga, membalas ucapan salam. Islam telah mengatur tentang adab-adab salam sedemikian
rupa, yang mencakup hukum memberi salam, hukum menjawabnya dan siapa yang lebih duluan salam.

Apabila berjumpa sesama muslim, Rasulullah memerintahkan untuk saling mengucapkan salam. Yang
muda mendahului memberi salam kepada yang tua, yang lewat kepada yang duduk, yang berkendaraan
kepada yang berjalan kaki, yang berjumlah sedikit kepada yang banyak, dan laki-laki memberi
salam kepada wanita. Wanita dilarang memberi salam kepada laki-laki.

Berdosa hukumnya bila ada salam tidak dijawab, karena hukum menjawab salam adalah wajib. Maka
dengan itu Rasulullah memerintahkan untuk selalu menjawab salam orang yang lewat ketika kita
nongkrong di pinggir jalan.

Keempat, ber-amar ma’ruf nahi munkar. Bila suatu ketika di depan mata kita terjadi
kezaliman, jangan sampai dibiarkan terjadi tanpa kita turun untuk mencegahnya. Sudah merupakan
kewajiban bagi seseorang untuk ber-amar ma’ruf nahi munkar. Cegahlah dengan tangan, atau dengan
hati, tapi itu selemah-lemahnya iman. Jangan biarkan kemungkaran terjadi di depan mata kita,
apalagi kita mampu untuk mencegahnya. Jika kita membiarkan, tunggulah siksa Allah di hari
pembalasan kelak.

"Sesungguhnya Allah Azza Wajalla tidak menyiksa awam karena perbuatan dosa orang-orang yang
khusus sehingga mereka melihat kemungkaran di hadapan mereka dan mereka mampu mencegahnya, tetapi
mereka tidak mencegahnya. Kalau mereka berbuat demikian maka Allah menyiksa yang khusus dan yang
awam."
(HR. Ahmad dan At-Thabrani).

Kelima, tunjuki jalan bagi orang yang bertanya. Kewajiban lainnya bagi orang-orang yang
duduk-duduk di pinggir jalan adalah memberikan bantuan dan menerangkan dengan jelas bagi orang
yang memerlukan bantuan tersebut. Layani dengan baik, tanya apa keperluannya, mau ke mana, dan
jawablah dengan baik lantas tunjuki jalan atau tempat yang dia cari, lebih baik lagi kalau
diantarkan ke tempat yang dituju. Itulah kewajiban yang diperintahkan Rasulullah kepada orang-
orang yang duduk-duduk di pinggir jalan.

Nabi SAW mendatangi serombongan orang yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan, lalu beliau
berkata, "kalau memang harus kamu lakukan maka balaslah ucapan salam dan tolonglah orang yang
dizalimi. Tunjuki jalan bagi orang yang bertanya." (HR. Abu Daud)
Jelaslah bahwa Rasulullah SAW selalu menegur pada orang-orang yang duduk-duduk di pinggir jalan.
Memalingkan pandangan, jangan mengganggu, menjawab salam, ber-amar ma’ruf nahi munkar, menolong
orang yang dizalimi, dan menunjukkan jalan bagi orang yang bertanya. Bila hal-hal ini tidak bisa
dilaksanakan, maka sebaiknya menghindari untuk duduk-duduk di pinggir jalan. Perbuatan ini
membuka peluang untuk mengerjakan maksiat dan terus menambah tabungan dosa kita, yang akan
dipertanggungjawabkan di hari kemudian. Pekerjaan yang demikian bila kita jauhi akan
menghindarkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada berguna, dan ini merupakan ciri orang
beriman yang beruntung.

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyu’ dalam
sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tiada
berguna."
(QS. Al-Mu’minun: 1-3).


 


yang mencoba menulis

January 20th, 2008 by diatasnamacinta

yang mencoba menulis………….semoga bermanfaat